Working From Home D1W4

Working from home minggu keempat (?) dan saya mulai bosan dengan keadaan ini. Bukan bermaksud menyesali keadaan yang terjadi saat ini atau marah dengan situasi pandemi ini. Saya hanya merasa saya kehilangan rutinitas saya Monday- Friday 7a.m. to 5p.m..

Memang judulnya working from home. Tapi saya tetap bosan dengan terus berada di dalam rumah. Ya, saya tahu ini hal terbaik yang saya lakukan untuk saat ini. Manusiawi kan kalau bosan?

Pagi ini saya menjalani rutinitas working from home seperti biasa. Berolahraga, sarapan, main sama anak, pakai skincare a.m., lalu bekerja. Membuka Youtube tepatnya. Mengecek siapa tahu Suhay Salim atau Fatya Biya atau Female Daily Network memiliki konten baru yang saya belum pernah tonton. Who knows?

Lalu, ada satu tampilan konten di Youtube saya yang menarik perhatian. Sebuah podcast dari sebuah channel Youtube yang mewawancarai salah satu Indonesian’s sweetheart yang menikah dengan salah seorang pengusaha di Indonesia.

Sudah cukup lama saya mengaguminya. Apalagi pas tahu saya pernah bertemu langsung dengannya di kampus (meskipun saya tidak mengenalinya. Pardon me :)) Di dalam podcast tersebut, dia bercerita lebih lepas dari yang biasa saya lihat di layar TV. Mungkin karena wawancara nya akan disiarkan di sebuah channel yang pangsa pasarnya berbeda dengan pangsa pasar layar TV.

Pada podcast tersebut dia bercerita tentang kehidupannya, tentang karirnya, tentang pemikiran dan ide- idenya untuk Indonesia, dan lain sebagainya yang membuat saya semakin mengagumi pemikirannya, terlepas dari sedikit berita negatif tentangnya yang dengan mudah dia tutupi dengan segudang prestasinya.

Ada dua hal yang menarik bagi saya:
1. Mampu berkata tidak in elegant way
Saat mendengar topik ini, saya merasa itu yang saya lakukan saat ini dan terus saya pertanyakan hingga saat ini apakah hal tersebut baik atau tidak. Berada pada lingkungan di mana saya bekerja, budaya itu dianggap tabu. Terutama jika kita berhadapan dengan atasan. Beragam cara saya mencoba untuk mengutarakan ketidaksetujuan saya. Mulai dari elegant way hingga rimba way (hehehe). Ujung- ujungnya ide saya tidak dianggap, saya dianggap tidak patuh dengan atasan atau bahkan hingga membawa nama belakang saya. Ya, se- negative itu lingkungan saya.

2. Jangan terpengaruh dengan opini orang lain
Topik ini kembali mengingatkan saya dengan dua hal yang diajarkan kepada saya yaitu selera orang tidak pernah salah dan kita harus punya prinsip. Contoh yang diberikan di dalam podcast itu pun kurang lebih sama. Jika semua orang tidak mau menonton film di bioskop karena film tersebut dianggap jelek dan membosankan, namun kamu ingin menonton film itu ya tonton saja. Don’t bother with other’s opinion. Sekali lagi, topik yang kedua ini tidak bisa diterapkan di tempat di mana saya bekerja saat ini. In this place full negativity, arahan atasan adalah yang utama. Sebuah konsep yang tidak pernah saya dan otak saya mengerti hingga saat ini. Menurut saya, atasan itu juga manusia yang pasti salah. Saya sudah dididik dengan kualitas pendidikan terbaik yang dapat diberikan oleh orangtua saya. Untuk apa saya diam saja jika saya tahu bahwa arahan atasan itu salah dan dapat berakhir buruk bagi organisasi. Tapi ya balik lagi ke pasal atasan tidak pernah salah, jika atasan salah balik ke pasal sebelumnya. Pasal yang bodoh.

Selama ini saya bertanya- tanya apakah dua hal yang saya pegang ini benar ataukah salah. Namun dari podcast dari Indonesian’s sweetheart yang saya dengar tadi pagi dapat disimpulkan tempat saya bekerja dan orang- orang di dalam nya lah yang salah dan tidak benar.

Lalu mengapa saya tetap bertahan di sana? Actually saya belum menemukan tempat berlabuh selanjutnya dan saya typicall orang yang tidak mau memperluas zona nyaman saya karena saya takut. Hal terakhir adalah hal yang berusaha keras untuk saya ubah saat ini.

Kind Regards,

Aurora Rizkika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *