My Circle

Saya cenderung membagi orang- orang yang saya temui ke dalam 3 kelompok besar di luar inner circle:
1. Toxic People. Biasanya awalnya saya akan mencoba satu dua kali untuk mengobrol dengannya. Namun jika dalam obrolan yang satu dua kali itu saya merasa dia tidak cukup waras, ya saya tidak akan memaksa untuk berkomunikasi dengannya. Maklum, wajah saya sama sekali tidak bisa dikontrol jika saya tidak suka dengan seseorang. Orang- orang dalam kelompok ini bisa jadi orang- orang yang pernah mengkhianati saya, telling some bad things behind me, memperalat saya untuk mencapai tujuannya yang licik, dan hal lainnya yang membuat hati nurani saya tidak nyaman. Intinya, jika kamu termasuk di dalam orang- orang yang tidak pernah saya sapa, pun ketika saya terpaksa berbicara dengan kelompok toxic people ini tidak akan ada eye contact, dan saya putus hubungannya melalui sosial media manapun, mungkin kamu termasuk di dalam kelompok ini. Childish? Enggak juga. Saya cuma menyingkirkan orang- orang yang membawa pengaruh negatif di hidup saya.
2. Third Layer. Kelompok orang yang enak untuk diajak diskusi namun cukup diskusi seputar hal- hal umum seperti pekerjaan, cuaca hari ini, atau kondisi kesehatannya, dan hal- hal umum lainnya. Hanya obrolan sambil lalu namun cukup sebatas obrolan umum tidak menyinggung ranah pribadi. Biasanya kelompok orang ini yang hanya saya jalin koneksi jika mereka sewaras dengan saya. Kalau ada hal yang saya tidak sepaham dengannya, biasanya saya diam saja atau hanya sebagai pendengar. Komunikasi akan terjadi satu arah. Hanya dari dia ke saya. Tidak sebaliknya.
3. Second Layer. Kelompok orang- orang yang dekat dengan saya namun tidak cukup dekat untuk menjadi inner circle saya. Orang- orang yang satu frekuensi dengan pemikiran saya. Yang enak untuk diajak bertukar pikiran dan gosip hehehe. Yang mengerti tingkah laku saya. Pada orang- orang second layer ini saya bisa menunjukkan sifat saya meskipun tidak keseluruhan karena saya tahu tidak semua orang bisa mengerti jalan pikiran saya. Mereka kelompok orang yang cukup bisa membuat saya refresh pikiran di tengan segala tekanan yang ada di hidup saya.

Mungkin ada beberapa orang yang menganggap saya aneh atau sombong atau hal negatif lainnya ketika tahu bahwa saya “membagi” mereka dalam kelompok- kelompok. But I dont care. Untuk orang dengan sifat seperti saya (i know it too well), saya harus bisa memilah- milah informasi mana yang baik untuk saya sebarkan ke orang- orang tertentu dan informasi mana yang cukup umum untuk disebar ke kelompok orang yang lainnya.

Ada beberapa orang yang saya anggap sudah mengecewakan saya, dan saya bersyukur saya tahu itu, untuk saya masukkan ke kelompok toxic people. Meskipun agama saya mengajarkan untuk berbuat baik ke semua orang, tapi mungkin hati saya tidak sebaik dan setulus Rasulullah atau malaikat sehingga saya harus membuat kelompok- kelompok orang ini. Untuk kebaikan saya dan kebaikan mental saya.

Kind Regards,

Aurora Rizkika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *