Organization Culture

Masih berlanjut dari tulisan sebelumnya yang berisikan bagaimana semua prestasi saya selama berkarir tidak dilihat karena nama belakang saya yang terlalu “wah” untuk sebagian besar orang.

Ini tentang bagaimana saya akhirnya memilih untuk berdiam diri saja, tidak inisiatif apapun, bahkan cenderung tidak menonjolkan diri saya. Alasannya sesederhana saya tidak ingin hidup become complicated hanya karena orang- orang tahu bahwa saya ahli di suatu bidang.

Organisasi ini brengsek. Itu hal pertama yang harus diingat…

Biasanya orang yang bisa diandalkan, dapat porsi pekerjaan yang lebih banyak dibandingkan yang lain. Namun karena culture organisasi saya yang memang anomali, jadi “sepertinya” lebih banyak orang yang memilih untuk berdiam diri saja, tidak menonjolkan kebisaannya.

Atau oke dia bisa diandalkan, namun tidak diberikan timbal balik yang layak dari organisasi. Entah itu pelatihan yang sesuai keahlian dia atau sederhana diberikan upah yang layak atas jerih payahnya untuk organisasi.

Ujung- ujungnya yaaa akhirnya orang akan lebih memilih untuk bekerja biasa- biasa saja. Tanpa memikirkan inovasi ataupun hal lain yang dapat membuat organisasi lebih baik.

Kalau ditanya pangkal masalahnya, bisa dibilang dari top management. Ya, memang mereka juga brengsek sih. Memang dibutuhkan orang- orang yang berintegritas untuk memimpin organisasi ini.

Padahal harusnya kita semua ingat bahwa pada akhirnya kita juga akan mempertanggungjawabkan apa yang kita perbuat nanti nya.

Kind Regards,

Aurora Rizkika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *