Pengakuan atas Prestasi

Pernah memiliki prestasi namun tidak diakui karena nama besar keluarga mu?

Yah, dia bisa begitu karena keluarganya mampu
Wajar lah dia bisa begitu. Liat keluarga nya

dan seterusnya suara- suara sumbang lainnya

Lets talk to me because i know how it feels

Saya bekerja di lingkungan di mana dari top management hingga tikus got mengetahui siapa keluarga saya.

Suara-suara sumbang seperti itu sudah sering saya dengar. Tidak hanya di kantor. Bahkan menyebar hingga ke pihak di luar kantor.

Bisa dibilang banyak hal yang sudah saya lakukan untuk kantor. Lembur hingga pagi selama 6 bulan, merapikan satu bagian kegiatan kantor hingga tidak ada temuan atas bagian tersebut dari auditor manapun. Tapi semua itu tertutupi hanya karena nama belakang saya.

Ya memang kantor saya anomali sekali untuk sebuah organisasi. Orang yang banyak dipakai dan dipercayai biasanya orang- orang yang tidak bisa kerja. Kalau pun dia bisa kerja, dia harus mengikuti perintah top management.

Mau top management nya nyuruh buat nyemplung sumur, juga harus ikut. Bahkan, in extreme way, kalau ada salah satu top management yang ditangkap pihak berwajib dan dia minta ditemani mungkin orang- orang yang selalu menuruti perintah top management juga harus ikut.

Pusing kan?

Sering kali saya pun tidak habis pikir mengapa nama keluarga saya harus selalu dibawa- bawa atas semua prestasi yang saya dapatkan sendiri. Awalnya saya mengira mungkin saya sendiri yang terlalu menonjolkan diri saya dan keluarga saya. Namun akhir- akhir ini saya sampai pada kesimpulan bahwa organisasi nya saja yang brengsek hingga harus mengungkit ungkit status keluarga seseorang.

Tidak semua orang di organisasi ini brengsek sih. Tapi kalau top management hingga pengambil keputusan nya saja tidak benar, organisasinya tentu jadi tidak sehat juga kan?

Kind regards,

Aurora Rizkika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *