Gosip dan Konfirmasi

Saya punya dua cerita yang menarik

Cerita Pertama

Ada dua orang rekan kerja lawan jenis yang memang akrab satu sama lain. Keakraban yang terjadi dikarenakan tuntutan pekerjaan yang selalu bersinggungan.

Timbul dua sudut pandang yang bertolak belakang dalam melihat interaksi dua orang tersebut.

Ada yang berprasangka baik dengan menganggap keakraban dua orang tersebut hanya lah sebatas pekerjaan. Toh keduanya juga sudah memiliki pasangan dan keluarga.

Ada pula yang memilih untuk berburuk sangka. Menganggap kedua nya akrab lebih dari seorang rekan kerja.

Kelompok yang berprasangka baik tentu tidak menimbulkan masalah.

Yang menimbulkan masalah tentu yang berprasangka buruk. Entah enggan untuk mengkonfirmasi atau topik ini dianggap tabu untuk dibicarakan, kelompok ini lebih suka menggosip dan menyebarkan fitnah dibandingkan konfirmasi langsung dengan dua orang yang dipergunjingkan tersebut.

Cerita Kedua

Ada seseorang, sebutlah si A, yang menyebarkan sebuah berita bahwa ada seorang balita yang membutuhkan bantuan untuk kesembuhan dari penyakitnya. Maka si A ini meminta bantuan materi dengan menyebutkan kondisi balita tersebut yang sedang kritis dan narasi- narasi lain yang membuat orang- orang yang membaca menjadi tergerak hatinya untuk menyumbangkan materi.

Setelah uang terkumpul, tentu saja ke sebuah rekening penampungan, si A hilang begitu saja tanpa ada berita selanjutnya tentang perkembangan penggalangan dana yang disebarkan sebelumnya.

Tanpa diketahui apakah berapa uang yang terkumpul, kapan akan disalurkan dan bagaimana penyalurannya. Wajar jika dikemudian hari ada beberapa orang yang berburuk sangka terhadap penggalangan dana tersebut. Dan seperti cerita pertama, kelompok orang yang berburuk sangka tersebut tidak mengkonfirmasi prasangkanya kepada si A.

Beberapa orang tersebut sibuk menyebarkan opini- opini negatif tanpa terlebih dahulu mengkonfirmasi apakah benar atau tidak. Dampaknya tentu sangat besar. Bisa jadi si A dikemudian hari tidak dipercaya lagi jika melakukan penggalangan dana. Padahal si A ini, mungkin, adalah orang baik dan jujur yang kejujurannya dan kebaikannya melebihi beberapa orang yang berburuk sangka padanya.

Apa yang bisa diambil dari dua cerita tersebut?

Bahwa tabayyun atau bahasa kerennya konfirmasi, sebuah berita negatif ke orang yang bersangkutan akan jauh lebih baik dibandingkan dengan menggosipkan berita tersebut di belakang yang bersangkutan.

Bukankah menggosip, yang ujungnya sebagian besar adalah fitnah, sama saja dengan memakan daging saudara sendiri?

Tapi tidak dipungkiri, menggosip itu menyenangkan. Buktinya acara gosip di televisi meraih rating yang cukup tinggi.

Ya, setan dan iblis tentu tidak akan mengajak manusia ke tempat yang sesat terkecuali itu menyenangkan luar biasa.

Kind Regards,

Aurora Rizkika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *