Le’ Husband

Entah mengapa tiba-tiba saa ingin menuliskan sesuatu tentang orang yang telah menemani saya selama 5 tahun terakhir hehehe

Le’ Husband

……….

Saya dan suami saya hanya terpaut usia 2 tahun. Dia lahir akhir tahun 1988 dan saya lahir pertengahan 1990.

Kita bersekolah di SMA yang sama. Obviously, dia adalah senior saya waktu SMA. Tidak pernah sedikitpun saya berpikir bahwa dia akan mengisi fase hidup saya setelah lepas dari orangtua (sounds cliche’).

Waktu SMA pun saya dan dia adalah dua orang yang berbeda. Dia sibuk ke masjid, saya sibuk hang out dengan teman (ehem!). Kami jarang bertukar sapa. Ya, paling hanya bertukar senyum kesopanan ketika saling berpapasan di koridor sekolah. Atau sekedar basa basi dia melanjutkan pendidikan ke mana setelah lulus SMA.

Nothing special!

Dia berhubungan dengan siapa, saya memiliki jalinan asmara dengan yang lain. Nope, we never met at intersection of our life.

Until one time..

Waktu itu masih jamannya Facebook. Teman saya yang juga junior suami saya waktu SMA menuliskan comment di laman Facebook saya. Menanyakan apakah saya sudah kembali dari Jerman. Comment yang mungkin secara takdir Allah melintas di laman news feed Facebook nya dan membuat komunikasi saya dan dia terjalin kembali yang pada akhirnya menimbulkan terjadinya pertemuan antar keluarga besar selang beberapa bulan setelah itu.

Suami saya bukan orang yang istimewa. Sangat berbeda dengan teman lawan jenis saya lainnya yang pernah tidak sengaja dekat. Bukan orang yang romantis, memanjakan saya, atau orang yang mau mengalah sedikit hanya untuk menarik perhatian saya. Diantara semua kriteria yang saya tentukan untuk menjadi suami saya nantinya, mungkin dia hanya memenuhi 1 kriteria tersebut.

Lalu, apa yang membuat saya yakin dari sosok yang hanya memenuhi 1 kriteria calon suami yang saya tentukan, sosok yang tidak pernah saya bayangkan untuk menemani fase hidup saya?

1. Dia datang saat saya berada dalam versi terbaik diri saya

2. Dia berani meminta saya dari keluarga saya

Saya yakin, dia adalah jawaban dari segala doa dalam fase terpuruk hidup saya. Lucu kan cara Sang Pemilik Takdir bertindak?

Kind regards,

Aurora Rizkika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *