Rasa Suka dan Konsekuensinya

Halo, it has been long time since i have not updated my tumblr hehehehehe

kadang ada yang memang pingin ditulis cuma karena kesibukan kantor jadi agak susah nyari waktu untuk nulisnya juga.

Yep,seperti yang sudah disebutkan di atas, saya sudah resmi menjadi pekerja kantoran ibukota semenjak April 2016. Bulan Januari ini sudah tepat 9 bulan saya bekerja di organisasi ini dan sudah cukup banyak yang saya ‘lihat’ dan saya pelajari dari kehidupan dan dunia kerja.

Satu hal yang saya perhatikan adalah banyaknya ‘cinlok’ yang terjadi di kantor dan menjadikan pepatah bahwa kita bisa saja memiliki perasaan kepada orang lain hanya karena sering bertemu, menjadi benar adanya.

Dan yang mengganggu adalah bahwa sering kali ‘cinlok’ tersebut melibatkan dua pihak yang sudah sama-sama memiliki keluarga. Lengkap dengan anak.

……………

Saya memang bukanlah orang yang menganut pergaulan bebas (HA HA HA HA). Pemikiran saya cenderung kolot dan tradisional. Terkadang apa yang dianggap masyarakat biasa saja namun menurut saya aneh. Salah satunya ya itu tadi.

Bagi saya, pernikahan itu bukanlah hanya suatu fase kehidupan yang memang harus dilalui oleh semua orang. Pernikahan itu lebih dari itu. Pernikahan, bagi saya, adalah suatu hal yang sakral. Ketika kita sudah memutuskan untuk menikah, maka segala konsekuensi harus kita tanggung. Termasuk menutup pintu hati untuk kehadiran yang lain.

Lalu, kalau hanya suka, kagum, bagaimana?

Rasa suka, rasa kagum, itu menurut saya adalah hal yang wajar dirasakan. Saya juga sering merasakan rasa suka atau kagum terhadap lawan jenis meskipun saya sudah memiliki suami dan anak. Yang menjadi critical point di sini adalah apakah rasa suka itu dilanjutkan dengan hal-hal yang lebih dalam dan memungkinkan untuk mencederai sebuah hubungan pernikahan?

Memiliki perasaan suka dengan lawan jenis terutama yang menjadi rekan kerja di kantor adalah hal yang lumrah bagi manusia. Apalagi jika kita lebih banyak menghabiskan waktu di kantor daripada di rumah. Namun, menjaga nama baik suami dan keluarga juga harus dilakukan sebagai ‘rem’ agar rasa suka tersebut tidak berujung pada ‘cinlok’ dengan rekan kerja yang akhirnya mencederai kesakralan pernikahan.

Kind Regards,

Aurora Rizkika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *